Toturial Update Offline Anti Virus Avast

Posted on:
tags:
Cara Update Offline Anti Virus Avast!

Anda ingin mengupdate Anti Virus anda? Namun anda tidak memiliki koneksi dirumah? Tenang saja, kita bisa update Anti Virus secara "Offline".
Apa itu update Anti Virus secara "Offline" yaitu kita download file "Update" dari Anti Virus tersebut secara "Online" di warnet, di kampus atau dimanapun anda bisa mendapat koneksi internet, kemudian anda bisa membawa file "Update" tersebut di dalam flashdisk dan anda bawa ke rumah untuk mengupdate Anti Virus anda di komputer anda yang berada dirumah.

Beginilah caranya, yaitu:
1. Download file Update terbaru dari Avast pada halaman ini Avast! Offline Update

Sesuaikan dengan versi Anti Virus Avast! anda dirumah, 
- Apabila Anti Virus anda Avast 2014 maka anda pilih avast! VPS update for version 2014
Apabila Anti Virus anda Avast versi 5 sampai 8 maka anda pilih avast! VPS update for versions 5 to 8
Apabila Anti Virus anda Avast versi 4.8 maka anda pilih avast! VPS update for version 4.8.0

2. Setelah itu Download file Update anda sesuai dengan versi Anti Virus anda.Biasanya file tersebut bernama "vpsupd.exe" 
3. Bawalah file tersebut ke rumah dan Jalankan file tersebut pada komputer atau laptop anda, maka automatis file tersebut akan memperbaharui Anti Virus anda.

Mudah bukan? biggrin
Anda bisa melakukan hal ini sebulan sekali, atau dua minggu sekali.

Cara Pindah Export Wordpress Ke Blogger

Posted on:
tags:
Ketika pertama mau mengimpor blog dari wordpress ke blogger harus export blog wordpress kemudian upload ke blogger ternyata hasilnya sangat mengecewakan harus menunggu lama sering error dan gagal
sudah search kesana kemari baca artikel dari blog dan web ternyata tidak ada satupun yang bisa menyelesaikan masalah bahkan berbulan harus mengupload dan juga tiap hari gagal alias error
akhirnya secara tak sengaja saya menemukan alamat converter wordpress ke blogger yang baru
alamatnya sudah berubah dari http://wordpress2blogger.appspot.com/ yang sekarang sudah


Error: Not Found
The requested URL / was not found on this server.
namum alhamdullilah  sekarang sudah bisa dengan coba coba alamat converter diatas di ganti dengan alamat yang baru yang bisa mengcoverter XMR ke XML blogger.
Tutorial lengkapnya ada dibawah ini silahkan dibaca agar lebih mudah

Import blog dari Blogger ke WordPress mudah dengan Plugin WordPress Importer, tinggal klik dan klik saja. Bagaimana jika sebaliknya, import WordPress ke Blogger. Sebenarnya juga hanya tinggal klik dan klik saja, tapi kita tidak bisa serta merta import file xml dari WordPress ke Blogger.
Jika Anda langsung mengimport file xml dari WordPress ke Blogger maka Anda akan menunggunya lama dan akhirnya gagal. Solusinya kita harus mengubah file-nya terlebih dahulu agar si Blogger suka. Berikut cara mudah import WordPress ke Blogger.
1. Anda harus sudah mempunyai file yang akan di import
Jika belum mengerti, silakan login ke dasbor WordPress Anda. Pilih export dan pilih apa saja yang hendak di eksport. Ada pilihan all content dan sebagainya, pilih saja sesuka hati. Export artinya kita mendownload semua konten atau halaman dari wordpress.
2. Klik Converter dari WordPress ke Blogger  atau buka alamat website ini 

http://wordpress2blogger1.appspot.com/
3. Pada halaman yang muncul, silakan klik "browse" untuk membuka file WordPress lalu "Convert"

Aplikasi hosting ini  hanya bisa download lebih kecil dari 1MB.
Tunggu beberapa saat Beberapa saat kemudian Anda sudah dapat menyimpan file hasil convert dengan nama file "blogger-export.xml"

4. Login ke dasbor blogger Anda
5. Pilih Setting >> Other (Lainnya) >> klik Import Blog
6. Pilih file blogger-export.xml >> Import Blog
Centang "I'm not a robot", jika Ada ingin mempublish konten langsung saat import maka pilih opsi "Automaticaly publish all imported posts and pages"
7.We Done

Gampangkan

Jika Dhaif Suatu Hadits Tentang Sujud

Posted on:
tags:

Jika disuruh memilih antara sehat dan sakit, pasti sehatlah yang dipilih. Jika diminta memilih antara baik dan buruk, pasti memilih yang baik. Itulah fithrah manusia.
Begitu juga jika disuruh memilih antara hadits shahih dan hadits dhaif, pasti yang dipilih adalah hadits shahih. Hampir semua umat islam ingin menjalankan agamanya dengan benar, didasari dari dalil yang kuat dari al-Qur’an dan Hadits yang shahih.
Hadits yang shahih memang menjadi salah satu modal dalam penetapan suatu hukum Islam. Para ulama ahli hadits telah berusaha menjaga agama ini agar agama Islam tetap orisinal, yaitu dengan memilih mana hadits yang memang berasal dari Nabi, dan membuang hadits yang disinyalir maudhu’/ palsu bukan dari Rasul.
Lantas Bagaimana dengan Hadits Dhaif?
Hadits maudhu’ itu palsu, sedangkan hadits dhaif itu lemah. Palsu itu karena berbohong, sedangkan lemah belum tentu karena bohong. Makanya, hadits dhaif tidaklah satu tingkatan. Ada hadits yang lemahnya ringan, ada pula yang berat.

Latah Hadits Dhaif

Semangat memurnikan ajaran islam tentu sangatlah baik, terlebih ketika umat islam sudah begitu jauh dari zaman kenabian. Tetapi kadang semangat itu tidak dibarengi dengan keilmuan yang mumpuni. Semagat pemurnian itu ibarat anti virus komputer. Anti virus yang baik adalah anti virus yang bisa membedakan mana itu virus beneran dan membahayakan komputer, mana yang sepertinya virus padahal bukan.
Sekarang ini, hadits dhaif sepertinya tidak hanya menjadi konsumsi mujtahid saja. Banyak kita dengar perkataan disekeliling kita, “Bukankah itu haditsnya dhaif?”.
Kita sebenarnya cukup gembira, karena umat islam sudah tidak lagi hanya taklid, tetapi sudah ada usaha untuk menjadi muttabi’ [meminjam istilah kalangan yang membedakan antara muqallid dan muttabi’].
Sayangnya, ada beberapa hal penting yang kurang dipahami terkait hadits dhaif ini. Seolah jika suatu hadits sudah dhaif, maka langsung dibuang saja.

Penilaian Hadits Shahih atau Dhaif Adalah Produk Ijtihad

Penetapan penilaian shahih dan dhaif suatu hadits adalah hasil dari sebuah usaha ijtihadi. Maka, pasal pertama dari suatu usaha ijtihadi adalah ijtihad harus dilakukan oleh mujtahid yang mumpuni. Penilaian terhadap suatu hadits harus dilakukan oleh seorang ahli hadits yang diakui kemampuan ijtihadnya dalam ilmu hadits.
Pasal keduanya, produk ijtihad bisa jadi benar dan mungkin saja salah. Pasal ketiga, karena sifatnya ijtihadi, maka bisa jadi hasil ijtihad seorang mujtahid itu berbeda dengan hasil ijtihad mujtahid yang lain. Makanya, banyak kita temui perbedaan penetapan shahih atau dhaif suatu hadits. Pasal keempat, bagi seorang muqallid, tidak sepantasnya memaksakan hasil ijtihad mujtahid yang ia ikuti kepada muqallid yang lain.
Pada pasal keempat ini, banyak kita jumpai saat-saat ini. Seorang yang sebenarnya masih muqallid, terkesan memaksakan penilaian suatu hadits orang yang mereka ikuti kepada orang lain. Inilah latahnya orang awam terkait hadits dhaif.

Jawaban Pertanyaan Jika Lemah Suatu Hadits

Sebaliknya, banyak ustadz juga yang latah ketika mendapat pertanyaan; “Bukankah itu haditsnya dhaif, ustadz?”.
Ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu, biasanya ustadz latah dalam menjawab. Jawaban diplomatis yang biasa dipakai adalah adanya khilaf diantara ulama, dalam hukum berhujjah dengan hadits dhaif, terlebih dalam fadhail a’mal.
Padahal seharusnya itu jawaban terakhir. Ketika ditanya seperti itu, selayaknya ada beberapa pertanyaan yang selayaknya kita ajukan terlebih dahulu. Pertanyaan itu adalah 4W: WHO, WHEN, WHY, WHERE.

WHO: Hadits Dhaif

Suatu ketika saya pernah ditanya, “Saat sujud yang lebih rajih didahulukan tangan dahulu atau lutut dahulu?”
Saya jawab, “Silahkan pilih diantara keduanya. Asal tidak kepalanya dahulu saja”
“Tapi kalo tidak salah, hadits yang menjelaskan lutut dahulu itu haditsnya lemah, ustadz. Jadi yang lebih benar itu tangannya dahulu?”
Ulama memang khilaf terkait mana yang turun dahulu saat sujud, keduanya silahkan dipilih mana yang sekiranya nyaman.
Ada satu hadits yang dianggap lemah oleh beberapa ahli hadits, hadits itu adalah hadits Wa’il bin Hujr:
رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سجد يضع ركبتيه قبل يديه ، وإذا نهض رفع يديه قبل ركبتيه . رواه أبوداود والترمذي والنسائي وابن ماجة والدارقطني
Saya melihat Rasullullah ketika sujud, beliau turun dengan dua lututnya sebelum tangannya, ketika naik beliau mengangkat tangannya dahulu sebelum lututnya. [HR. Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasai, Ibnu Majah dan Daraquthni]
Hadits ini dianggap lemah oleh Nashiruddin al-Albani dalam kitab Irwa’ al-Ghalil, hal. 2/75 dan Imam Baihaqi dalam Sunannya, hal. 2/101. Maka mereka berpendapat bahwa yang lebih rajih adalah mendahulukan tangan dahulu. Ini adalah pendapat Imam Malik dan Imam Auza’i.
Tetapi hadits itu oleh ulama’ lain dinilai tidak lemah. Madzhab Abu Hanifah, Syafi’i, Ahmad dalam salah satu riwayatnya memilih lebih mendahulukan lutut, inilah yang diamalkan oleh kebanyakan ahli ilmu [Abu Isa at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, hal. 2/57]. Pendapat ini dipilih juga oleh Ibnu Qayyim (w. 751 H), Bin Baz, dan Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.
Maka, ketika kita mendapat suatu hadits dinilai dhaif, yang menjadi pertanyaan pertamanya adalah siapakah yang menghukumi dhaif hadits itu?
Memang ada beberapa hadits yang oleh ulama disepakati keshahihannya, ada juga hadits yang disepakati kedhaifannya. Tetapi ada juga hadits yang menjadi perbedaan diantara para ulama terkait shahih dan dhaifnya. Jika sekali waktu ada yang bilang, “Itu haditsnya dhaif”, maka bertanyalah: “Siapakah yang mendhaifkannya”. waallahua'lam bisshawab
Untuk pertanyaan 4 W selanjutnya, insyaAllah kita lanjutkan ditulisan berikutnya.